About

Monday, 17 July 2017

DEMAM TIFOID


DEMAM TIFOID

Demam tifoid dan demam paratifoid adalah penyakit infeksi usus halus
Endemik di Indonesia
Termasuk penyakit menular
Sumber penularan: Pasien tifoid dan carrier
Carier adalah : orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengeksresi s.typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun,
Transmisi melalui: Air dan makanan yang tercemar                                                 
Banyak ditemukan dinegara berkembang dengan sanitasi dan kebersihan lingkungan yang kurang baik
Kuman S. typhi masuk kedalam tubuh melalui mulut dengn makanan dan air yang tercemar, sebagian kuman dimusnahkan oleh asam  lambung dan sebagian masuk ke usus halus, didalam usus komplikasi perdarahan dan perforasi dapat terjadi.

MANIFESTASI KLINIS
Masa tunas 10-14 hari
Gejala sangat bervariasi : serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya
Minggu pertama : Demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, rasa tidak enak diperut, batuk dan epistaksis.
Minggu kedua gejala lebih jelas: Demam, bradikardi relatif, lidah yang khas ( kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Leukosit : kadang leukopeni, kadang leukositosis, sering pula normal (tidak berguna untuk diagnosis tifoid
SGOT/SGPT : sering meningkat (tidak memerlukan pembatasan pengobatan)
Biakan darah
Bila positif memastikan demam tifoid, tapi bila negatif tidak menyingkirkan demam tifoid 


KEPEKAAN S. TYPHI TERHADAP OBAT ANTI MIKROBA
100% sensitive terhadap kloramfenikol
83,3% - 100% sensitive terhadap ampicillin
97% - 100% sensitive terhadap kotrimoksazol

UJI WIDAL
Adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody
Maksud uji widal adalah untuk menentukan adanya agglutinin dalam serum pasien yang disangka menderita demam tifoid.
Akibat infeksi oleh S.typhi , pasien membuat antibody (agglutinin), yaitu:
a.       Aglutinin O (dari tubuh kuman)
b.      Aglutinin H (dari flagel kuman)
c.       Aglutinin Vi (dari simpai kuman)

Hanya agglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis.
Tidak ada consensus mengenai tingginya titer uji widal yang mempunyai nilai diagnostic yang pasti
Batas titer yang sering dipakai hanya kesepakatan saja yang hanya berlaku setempat dan berbeda diberbagai laboratorium.
Uji widal positif dapat disebabkan oleh salmonella lain
Orang yang telah sembuh dari tifoid, agglutinin akan tetap hanya kesepakatan saja yang hanya berlaku setempat dan berbeda diberbagai laboratorium.
Uji widal positif dapat disebabkan oleh salmonella lain
Orang yang telah sembuh dari tifoid, agglutinin akan tetap ada dalam darah dalam waktu yang lama
Uji widal bukan untuk menentukan kesembuhan pasien

DIAGNOSIS
Biakan darah positif memastikan demam tifoid
Biakan negative tidak menyingkirkan demam tifoid
Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis tifoid
Peningkatan titer uji widal 4x lipat selama 2 sampai 3 minggu memastikan diagnosis

Reaksi widal tunggal dengan titer antibody O → 1:320 atau H → 1:640 menyokong diagnosis tifoid dengan gambaran klinis yang khas.
Pada beberapa pasien, uji widal tetap negative walaupun biakan darah positif

KOMPLIKASI
1.       Intestinal :
                                                               i.      Perdarahan usus
                                                             ii.      Perforasi usus
                                                            iii.      Ileus paralitik

2.       Ekstra intestinal:
a.       Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis), miokarditis, thrombosis dan tromboflebitis
b.      Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, DIC dan sindoma uremia hemolitik
c.       Komplikasi paru : pneumonia, empyema dan pleuritic
d.      Komplikasi hepar dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistitis
e.      Komplikasi ginjal : glomerulonephritis, pielonefritis dan perinefritis
f.        Komplikasi tulang : osteomyelitis, periostitis, spondylitis dan artritis
g.       Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polyneuritis perifer, sindroma guillain barre, psikosis dan sindroma katatonia
Pada anak dengan demam paratifoid komplikasi jarang terjadi
Komplikasi sering pada toksemia berat dan kelemahan umum, terutama bila perawatan kurang sempurna

PENGOBATAN
1.       Perawatan
2.       Diet
3.       Obat

Perawatan
Perlu rawat rumah sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan
Tirah baring absolut sampai 7 hari bebas demam atau kurang lebih 14 hari
Mobilisasi bertahap


Diet
Bisa bubur saring, bubur kasar atau nasi dengan lauk pauk rendah selulosa

Obat
Antimikroba yang sering digunakan:
a.       Kloramfenikol
b.      Tiamfenikol
c.       Kotrimoksazol
d.      Ampisilin dan amoksisilin
e.      Sefalosforin generasi ketiga
f.        Fluorokinolon

Obat-obat simtomatik
Antipiretik : bila perlu
Kortikosteroid : Dapat diberikan pada pasien toksik secara oral atau parenteral selama 5 hari taffering off
Pengobatan demam tifoid pada wanita hamil                
Kloramfenikol : tidak boleh diberikan pada trimester ketiga-menyebabkan partus premature, kematian fetus intrauterine dan grey syndrome
Tiamfenikol : tidak dianjurkan untuk trimester pertama-efek teratogenic, pada kehamilan lanjut bisa diberikan
Ampisilin, amoksilin dan sefalosforin generasi ketiga – aman untuk wanita hamil, kecuali hipersensitif
Kotrimoksazol dan flourokinolon – tidak boleh untuk wanita hamil

PROGNOSIS
Tergantung : Umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi salmonella, serta cepat dan tepatnya pengobatan.
Angka kematian rata-rata 5,7%








Wednesday, 12 April 2017

PREPARATION OF MEDICAL CHECK UP

PREPARATION OF MEDICAL CHECK UP 

 1. Fast for at least 10-12 hours before Medical Check Up examination. The participant is only allowed  to drink plain water during fasting.
2. Not recommended to consume any medication in the morning before Medical  Check Up examination, unless recommended by your doctor.
3.    For  eye examination,  please  do not wear contact lenses.  We suggested to only use glasses during examination.
4.     Avoid any drinks contain caffein or tea prior to Treadmill examination

How to Prepare for the Treadmill Test

Wear comfortable shoes  and loose clothing to allow you to exercise.
Ask your provider if you should take any of your regular medicines on the day of the test. Some medicines may interfere with test results. Never stop taking any medicine without first talking to your doctor.

5.       For Pap’s Smear or Thin Prep examination:
a.       Not have sexual intercourse for 48 hours before examination
b.      Do not use antiseptic wash or antiseptic  soap in vagina area for 48 hours before examination
c.       Examination conducted when no menstruation or 7 days after after period.

6.       How should I prepare for Chest x-ray examination?

A chest x-ray requires no special preparation.
You may be asked to remove some or all of your clothes and to wear a gown during the exam. You may also be asked to remove jewelry, removable dental appliances, eye glasses and any metal objects or clothing that might interfere with the x-ray images.

Women should always inform their physician and x-ray technologist if there is any possibility that they are pregnant. Many imaging tests are not performed during pregnancy so as not to expose the fetus to radiation. If an x-ray is necessary, precautions will be taken to minimize radiation exposure to the baby. 

MEDICAL CHECK UP




PERSIAPAN SEBELUM MELAKUKAN MEDICAL CHECK UP


1.     Cukup istirahat, usahakan tidur 6-8 jam sebelum check up
2.     Tidak melakukan aktifitas fisik yang berat/ tidak olah raga yang
 berlebihan 1-2 hari sebelum check up
3.     Puasa 10-12 jam sebelum pemeriksaan laboratorium (sebaiknya
           tidak kurang dari 10 jam atau tidak lebih dari 12 jam)
4.     Perbanyak minum air putih
5.     Tidak mengkonsumsi alkohol dan minuman yang mengandung
           caffein
6.     Tidak mengkonsumsi obat-obatan, kecuali dalam pengawasan
           dokter (Untuk penderita penyakit tertentu yang memang harus
 tetap minum obat, agar diinformasikan kepada petugas medical
           check up)
7.     Selama puasa, boleh mengkonsumsi air putih
8.     Usahakan datang pagi hari (Pkl. 07.00-08.00) dilokasi medical
           check up

                                                                                                                                                                                                               

Thursday, 9 March 2017

PERSIAPAN PRA MEDICAL CHECK UP

   
UMUM
Puasa : 10 – 12 jam.
Untuk Pemeriksaan laboratorium seperti, kadar gula darah, kolesterol,  dll.

          Untuk tindakan diagnostik, seperti: USG.
         HANYA boleh minum air putih saja.
         Untuk sample darah dan urine diambil dilokasi pelaksanaan Medical Check Up
         Bahan tinja (feses) dapat diambil pagi hari dirumah pada saat hari pemeriksaan  (wadah dari petugas)
        Untuk hasil optimal, 3 hari sebelum Medical Check Up disarankan istirahat cukup, tidak melakukan latihan atau olah raga berat 
        Minum air kurang lebih 2 liter atau 8 gelas/hari
        Untuk pemeriksaan radiologi (Rontgen), tidak diperkenankan memakai perhiasan (kalung dan logam).
      HINDARI pemakaian obat dipagi hari sebelum pemeriksaan, kecuali atas anjuran dokter. Apabila terdapat obat-obatan yang masih dikonsumsi harap memberikan keterangan kepada petugas Medical Check Up.



   KHUSUS WANITA
       - Pelaksanaan Medical Check Up sebaiknya pada hari 7 setelah hari terakhir haid
       - Beritahu petugas Medical  Check Up jika sedang atau curiga hamil (terlambat haid)-      tidak boleh melakukan pemeriksaan rontgen.

       PAPSMEAR/THIN PREP

      -  Tidak melakukan hubungan seksual 48  jam sebelum tes dilakukan
       - Sebaiknya dilakukan pada saat tidak sedang menstruasi (7 hari setelah hari terakhir    menstruasi)
      -  Jangan menggunakan pembasuh antiseptik atau sabun antiseptik di sekitar vagina  selama 48 jam sebelum tes.

       Tujuan:
       Untuk mengidentifikasi perubahan sel yang disebabkan oleh virus, sehingga dapat mendeteksi secara dini akan kemungkinan adanya sel kanker sehingga pengobatan dapat dilakukan sebelum virus menyebar dan menjadi masalah besar.
       Penyebanya adalah HPV (Human papilloma virus) – hubungan sex


MAMMOGRAPHY/USG PAYUDARA
Tujuan:
Untuk mendeteksi tumor  atau kanker payudara
Persiapan:
- Jangan menggunakan deodoran, bedak atau lotion diketiak atau payudara
  saat pemeriksaan.
- Paling baik dilakukan dalam waktu 1 minggu setelah selesai haid, pada saat
  payudara tidak terasa kencang


PEMERIKSAAN MATA

Kontak lens harus dilepaskan
Membawa kacamata bila memakai kacamata



AUDIOMETRI / TES PENDENGARAN
Adalah: Pemeriksaan untuk menentukan jenis dan derajat ketulian
Jenis ketulian:
1.Tuli konduktif
2.Tuli Syaraf
Derajat ketulian:
1. Ringan
2. Sedang
3. Berat
Tujuan: Untuk mengetahui adanya penurunan pendengaran sebelum gangguan tersebut          dirasakan jelas oleh pekerja
Persiapan:
-Dilakukan diruangan kedap suara
-Nyaman, tidak ada suara, penerangan cukup
-Lepaskan segala asesoris ditelinga-anting, alat bantu dengar, dll.
-Pastikan telinga bersih dari kotoran 


SPIROMETRI

  Adalah:  Tes yang membantu mendiagnosa berbagai kondisi paru seperti:        obstruksi/sumbatan paru, asma, fibrosis, dll.
                  Untuk memonitor  kinerja paru
                  Memonitor respon terhadap perawatan yang sedang dilakukan
                  dll

  Persiapan:
Ruangan nyaman
Tidak merokok sebelum pemeriksaan, minimal 2 jam
Tidak makan terlalu kenyang
Tidak berpakaian ketat
Tidak minum obat pelega pernafasan 


EKG (ELEKTRO KARDIO GRAM):
Adalah : Pemeriksaan aktifitas elektrik jantung
Tujuan :
 Untuk menemukan kelainan seperti:
- Gangguan irama jantung (disritmia)
- Pembesaran atrium atau ventrikel (dinding jantung)
- Iskemik atau infark miokard
- Gangguan elektrolit
- Infeksi lapisan jantung (perikrditis)
- Penilaian fungsi pacu jantung
-
 Persiapan:
- Posisi berbaring
- Tenang, tidak mengobrol dan tidak batuk
- Melepaskan asesories yang terbuat dari logam
- Jangan mengkonsumsi minuman yang mengandung caffein


TREADMILL TEST atau EXERCISE STRESS TEST
Adalah: Tes diagnostik kardiovaskuler untuk menentukan seberapa baik jantung bekerja dan merespon stress eksternal.
Tujuan:
-Mendeteksi kelainan irama jantung
-Menentukan apakah  aliran darah ke jantung cukup atau tidak
-Mengevaluasi kondisi jantung setelah menderita penyakit jantung/dalam pengobatan

Tes ini berguna untuk:
-Diduga memiliki masalah  kardiovaskular karena timbulnya beberapa gejala, seperti: sakit dada, kesulitan bernafas/sesak, detak jantung yang tidak teratur
-Memiliki riwayat dalam keluarga penyakit jantung
-Perokok lama/perokok berat
-Memiliki hipertensi, hiperkolesterol, diabetes
-
Persiapan:
-Dianjurkan dalam kondisi puasa atau 2-3 jam setelah makan ( agar tidak mual)
-Kenakan pakaian yang nyaman dan sepatu khusus untuk latihan/olah raga









FUNGSI HATI



              
FUNGSI HATI:

- Menyaring dan mengeluarkan racun tubuh
- Tempat sintesa berbagai protein
- Mengatur sirkulasi hormon tertentu (estrogen)
- Membantu empedu mengeluarkan cairan empedu
- Membentuk sel-sel darah merah
- Menghasilkan zat yang berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah
- Merupakan regulator hampir semua metabolisme tubuh, seperti metabolisme
  karbohidrat, protein dan lemak.
-Dll

ZAT-ZAT YANG DIHASILKAN HATI:

- SGOT
- SGPT
- Gamma GT
- Alkali fosfatase
- Bilirubin
- Cholinesterase
- Dll.

SGPT (SERUM GLUTAMIC PYRUVATE TRANSFERASE) dan SGOT (SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSFERASE)

-          Adalah enzim-enzim yang terdapat dalam sel hati
-          SGPT lebih menggambarkan fungsi hati seseorang
-          Sedangkan SGOT selain diproduksi di hati, diproduksi juga di otot dan otot jantung

MENINGKAT KARENA:

-          Terganggu oleh virus (Hepatitis)
-          Zat-zat kimia tertentu
-          Alkohol
-          Kelelahan kronis
-          Fatty liver (Perlemakan hati) - Overweight/Obesitas
-          Cedera otot
-          Efek obat tertentu
-          Sumbatan empedu
-          Penyakit non liver: kelainan tiroid, autoimun, tifus, DHF.
-          dll.


PENANGANAN

-          Tergantung penyebab


GAMMA GLUTAMYL TRANSFERASE (GAMMA GT)

Adalah: Enzim yang ditemukan di dalam hati dan ginjal

MENINGKAT KARENA:

-          Alkohol dan obat obatan tertentu (barbiturat, fenitoin, dll)
-          Penyakit hati (kanker hati, hepatitis, sirosis, dll0
-          Penyakit jantung (CHF, infark)
-          Penyakit ginjal
-          Diabetes
-          Radang pankreas
-          Dll.



ALKALI FOSFATASE

Adalah: Enzim yang dapat ditemukan diberbagai organ tubuh, terutama terdapat di hati, tulang dan plasenta.
Berfungsi untuk memindahkan gugus fosfat.

MENINGKAT PADA

-          Sakit liver (Hepatitis, sirosis, cholestasis)
-          Sakit ginjal (Gagal ginjal, gangguan saluran urine)
-          Penyakit tulang (Fraktur tulang, osteomalacia)
-          Gastrointestinal (Ulkus peptikum, pankreatitis akut)
-          Kelainan endokrin (Diabetes, hipertiroid)

HEPATITIS B

HBsAg (Hepaptitis B surface antigen)

Adalah: Penanda seseorang terinfeksi virus hepatitis B.
Bila Positif atau reaktif, dilanjutkan dengan pemeriksaan HbeAg

HbeAg adalah: Penanda yang menunjukkan peluang seseorang yang terinfeksi virus Hepatitis B untuk menularkan keorang lain.

PENYEBAB: Virus Hepatitis B

CARA PENULARAN

-          Kontak seksual
-          Jarum suntik yang bergantian
-          Dari ibu ke bayi saat melahirkan
-          Alat cukur, jarum tindik, jarum tatto, dll.

 PENCEGAHAN

-          Vaksinasi Hepatitis B


HEPATITIS A

PENYEBAB : Virus hepatitis A

CARA PENULARAN:

Makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja pengidap virus hepatitis A

Faktor resiko yang dapat meningkatkan penyebaran virus hepatitis A:
-          Sanitasi yang buruk
-          Kontak langsung dengan pengidap
-          Berbagi jarum suntik
-          Berhubungan sex dengan pengidap
-          Bekerja diarea yang berhubungan dengan kotoran / selokan

PENCEGAHAN

-          Menjaga kebersihan
-          Vaksinasi


HEPATITIS C

PENYEBAB: Virus Hepatitis B

CARA PENULARAN:

-          Jarum suntik, jarum tato
-          Sikat gigi, gunting kuku
-          Hubungan sex

TIDAK MENULAR MELALUI:

-          Makanan/minuman
-          ASI
-          Bersentuhan, bersalaman, berpelukan

PENCEGAHAN

-          Tidak menggunakan barang-barang yang berpotensi menyebabkan penularan
-          Tidak ada vaksin